jump to navigation

Etika Dalam Fotografi 13 Juni 2012

Posted by uungferi in Artikel.
Tags: , , , ,
trackback

Selayaknya kehidupan pada umumnya seorang fotografer adalah manusia yang saling berhubungan sosial dimanapun berada. Tidak bisa dipungkiri seorang fotografer tidak bisa lepas dari interaksi sosial atau biasa disebut human relation. Baik dalam berkomunikasi dengan model, asisten, tim dan sekitarnya.

Dalam hal ini yang dimaksud etika dalam fotografi menurut saya sangat penting dan patut diperhatikan dengan baik. Hal yang sering terjadi saat ini adalah seorang fotografer selalu merasa dirinya yang terbaik dan paling pintar, semua orang yang disekitarnya dianggap sebagai bawahan atau junior lebih parahnya lagi adalah tidak menganggap sama sekali.

Kemudian perbincangan fotografer hanya mengarah pada jadwal hunting, teknis fotografi, berebut mencari model terbaik. Padahal diluar itu semua ada yang perlu diperhatikan yaitu Etika Dalam Fotografi. Seorang fotografer yang mempunyai etika tidak baik akan rugi dengan sendirinya.Etika yang saya maksud dalam hal ini adalah cara interaksi dengan model, interaksi dengan fotografer lain, interaksi dengan alam sekitar atau orang-orang yang berkaitan dalam fotografi itu sendiri.

Bagi anda penikmat potret atau hobi memotret model ada baiknya berkomunikasi dengan baik. Karena sering terjadi model yang baru bermunculan masih kaku dalam berpose. Lebih baik anda berkenalan dahulu dan melakukan pendekatan secara personal tanpa membicarakan tentang pose. Buatlah model tersebut merasa nyaman dengan anda, sehingga pada saat sesi pemotretan anda tidak canggung mengatur pose dan sebaliknya model juga akan merasa nyaman dalam berpose. Alhasil anda akan mendapatkan pose dan foto yang bagus, hal ini akan menguntungkan kedua belah pihak bukan…? Ingat jaga kesopanan anda, sikap dan perkataan tidak perlu berlebihan.

Nah, bagi anda yang demen dengan foto landscape, human interest melakukan pendekatan ke penduduk atau masyarakat sekitar sangat penting. Karena hal ini akan membuat mereka juga merasa senang dianggap sebagai pemilik wilayah. Hal yang sering terjadi ketika kita tiba-tiba datang ke lokasi langsung mengeluarkan kamera adalah munculnya pertanyaan darimana? motret buat apa? keperluanya apa?. Demi menghindari pertanyaan yang anda anggap tidak penting lebih baik anda meminta izin apabila diperlukan.

Hubungan antara fotografer dengan fotografer lain juga menjadi hal yang paling vital. Seorang fotografer professional tidak akan bekerja atau menciptakan sebuah karya sendiri. Teruslah berinteraksi, konsultasi, tukar pendapat, saling menghargai karya orang lain, rendah hati. Kemudian berbagilah ilmu dengan fotografer lain maka anda akan mendapatkan ilmu yang lebih dari fotografer lainya. Kalau orang jawa bilang jangan pelit soal ilmu…!!! Semoga bermanfaat… (www.uungferi.com)

Dirangkum dari berbagai sumber dan pengalaman yang pernah saya rasakan….

About these ads

Komentar»

No comments yet — be the first.

Yang Komen Dapat Ucapan Terimakasih Beuudd..!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 9.633 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: